Suratan Takdir ....

4:16 PM Posted In Edit This 3 Comments »

Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Liburan yang aku jalani selama 4 bulan, serasa berjalan begitu cepat. Empat purnama tlah berhasil kulewati, dengan berbagai kenangan yang kuukir, bersama keluarga, kerabat, sahabat, serta adik2 ku.
Sungguh semua itu berat bagiku, seorang anak yang harus berpisah dengan induknya. Namun ,,,, itu semua akan menjadikanku seorang wanita yang tangguh dan tegar.
Seorang gadis yang harus rela berpisah dri keluarganya, demi sebuah ilmu yang ia emban.

Perjalanan hidupku di kota Seribu Menara tlah berhasil kulalui selama hampir 2 tahun.
Namun perjuanganku masih tiga tahun lagi. Aku yakin tiadalah sebaik-baik penolong kecuali Allah Swt. Allah akan selalu bersama org2 yg menuntut ilmu di jalan-Nya hingga ia kembali. Perjalanku di Kairo kumulai sejak tanggal 26 maret 2009, disitulah hari pertamaku menginjakkan kaki di Kota Seribu Menara. Pada tanggal 19 juni 2010, aku akan kembali untuk berlibur ke kampung halaman, Jogja tercinta.

Bulan demi bulan tlah berhasil kulalui, dengan segala ujian hidup yang kuhadapi. Tekadku ingin berlibur ke Indonesia u/ menjenguk kakek yang sedang sakit harus berakhir duka. Tak sempat aku bertemu dengannya, ajal datang lebih cepat dari kedatanganku.

Ingin diri ini menghantarkan kepergiannya, namun apa daya tangan ini tak sampai. Ia adalah milik Allah, dan akan kembali pada-Nya.
Ya Allah ,,,, aku hanya hamba-Mu yang patuh pada skenario-Mu.
Semoga arwahmu tenang disana, dan penderitaanmu kini tlah berakhir.
Namamu kan selalu ku kenang dalam benak sanubariku ...

13 juni 2010, menjadi saksi kebesaran-Mu ya Rabb ...
Manusia tak dapat melawannya, ataupun mengakhirkan taqdir-Nya.
Hari itu tak seperti biasanya, ibuku dari Indonesia menelponku dengan dana sendu.
Aku berusaha memancingnya untuk berbicara, akhirnya usahaku berhasil. Perlahan ibu mengabariku tentang kabar kakek.
"Nak ,,, sabar ya !!! Kakek di runag ICU sedang sakaratul mau, ikhlaskan ia pergi!!"

Suara ibuku kian memekak telingaku, aku hampir tak percaya dengan berita itu .
Dada ini terasa sesak, dan mata ini tak sanggup lagi membendung air mata. Air mataku semakin membanjiri pelupuk mata ini.
Ya Allah ..... izinkan hamba tuk bertemu dengannya walau sedetik.
Manusia .... hamba Allah yang sama sekali tak mempunyai kekuasaan untuk menunda kematian, itu semua sudah menjadi suratan taqdir. Kita hanya bersiap, menunggu giliran, dengan memperbanyak amal Shaleh .

Suara dering telepon dari atas kasurku berbunyi kembali, ku angkat perlahan, berharap kabar gembira kan datang. Namunnn ..... harapanku memudar membuat tangis ini kian meledak.
Innalillahi wa Inna Ilaihi rooji'un ...
Semua hanyalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya.
Kakek tlah pergi jauhhhh ,,,, meninggalkan kita semua. Namamu kan selalu ku kenang hingga akhir menutup mata ....

Surat untuk alm.Kakek tercinta..
Alm.H.Junaidi Humam ...