SECERCAH CINTA UNTUKMU IBU

3:10 AM Posted In Edit This 0 Comments »


Saat retinaku mulai menerima cahaya
Kau tuntun aku mendefinisikan benda
Mengagumi indahnya warna
Mengenalkanku pada agung penciptaan-Nya

Saat pita suaraku mulai sempurna
Kau bimbing aku mengucap kata
Merangkai sepotong doa
Agar ku mampu ungkapkan cinta

Saat keingintahuanku mulai meraja
Lembut kau jawab mesra
Meski tanyaku selalu sama
Sabar kau ulang kata yang tak berbeda

Tangisan manja dariku
Mengetuk mata dari mimpi indah
Kau terjaga dengan senyum merekah
Menyelamatkanku dari peraduan yang basah

Tiap tetes susu ibu memberi kehidupan baru
Air matanya menumbuhkan rindu
Gerak raganya adalah guru
Mengantarkan pada mimpi tertuju

Kini kutumbuh menjadi remaja dewasa
Kuingin basuh peluh keringat di wajahmu
Perjuanganmu tak kan pernah terbayar
Meski ku harus berlari membawamu
Mengitari bumi…

Ibu …
Kau beri aku lautan maaf
Diri ini yang selalu bersilap khilaf
Bersimbah dosa
Kau luruskan aku
Disaat langkah tak lagi sama

Kau antar aku menuju cahaya terang
Menggapai semua cita
Kau kalungkan aku sejuta harap
Berharap ku kembali membawa sejuta ilmu

Di saat raga harus berpisah
Menyisakan pilu dalam hati
Sungguh ku tak ingin jauh darimu
Ingin selalu dekat denganmu
Mencium aroma wangi harum tubuhmu

Ku ingin gantikan sedihmu dengan tawa
Membasuh setiap butir air mata
Yang tak sanggup kau bendung lagi
Semua hanyalah skenario Tuhan
Yang wajib kita patuhi


Doamu selimuti aku
Dari dinginnya malam
Lidahmu tak pernah letih
Seraya memohon kepada-Nya
Berharap kemudahan selalu menyertai setiap langkahku

Ya Allah …
Hamba memohon
Mudahkanlah segala urusannya di dunia
Jaga ia disetiap sepi
Jangan ada duka dalam hatinya

Di hari jadimu …
Ku kirim sekuntum doa untukmu
Kau lah permata hati
Kau lah bunga jiwaku yang tak pernah layu
Wujud cinta & kasihmu
Tak kan pernah pudar walau ditelan massa

I just want to say …
Happy Birthday to you ….
May Allah bless u ….


From your lucky daughter
Kairo, 28 nov ‘10

Suratan Takdir ....

4:16 PM Posted In Edit This 3 Comments »

Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Liburan yang aku jalani selama 4 bulan, serasa berjalan begitu cepat. Empat purnama tlah berhasil kulewati, dengan berbagai kenangan yang kuukir, bersama keluarga, kerabat, sahabat, serta adik2 ku.
Sungguh semua itu berat bagiku, seorang anak yang harus berpisah dengan induknya. Namun ,,,, itu semua akan menjadikanku seorang wanita yang tangguh dan tegar.
Seorang gadis yang harus rela berpisah dri keluarganya, demi sebuah ilmu yang ia emban.

Perjalanan hidupku di kota Seribu Menara tlah berhasil kulalui selama hampir 2 tahun.
Namun perjuanganku masih tiga tahun lagi. Aku yakin tiadalah sebaik-baik penolong kecuali Allah Swt. Allah akan selalu bersama org2 yg menuntut ilmu di jalan-Nya hingga ia kembali. Perjalanku di Kairo kumulai sejak tanggal 26 maret 2009, disitulah hari pertamaku menginjakkan kaki di Kota Seribu Menara. Pada tanggal 19 juni 2010, aku akan kembali untuk berlibur ke kampung halaman, Jogja tercinta.

Bulan demi bulan tlah berhasil kulalui, dengan segala ujian hidup yang kuhadapi. Tekadku ingin berlibur ke Indonesia u/ menjenguk kakek yang sedang sakit harus berakhir duka. Tak sempat aku bertemu dengannya, ajal datang lebih cepat dari kedatanganku.

Ingin diri ini menghantarkan kepergiannya, namun apa daya tangan ini tak sampai. Ia adalah milik Allah, dan akan kembali pada-Nya.
Ya Allah ,,,, aku hanya hamba-Mu yang patuh pada skenario-Mu.
Semoga arwahmu tenang disana, dan penderitaanmu kini tlah berakhir.
Namamu kan selalu ku kenang dalam benak sanubariku ...

13 juni 2010, menjadi saksi kebesaran-Mu ya Rabb ...
Manusia tak dapat melawannya, ataupun mengakhirkan taqdir-Nya.
Hari itu tak seperti biasanya, ibuku dari Indonesia menelponku dengan dana sendu.
Aku berusaha memancingnya untuk berbicara, akhirnya usahaku berhasil. Perlahan ibu mengabariku tentang kabar kakek.
"Nak ,,, sabar ya !!! Kakek di runag ICU sedang sakaratul mau, ikhlaskan ia pergi!!"

Suara ibuku kian memekak telingaku, aku hampir tak percaya dengan berita itu .
Dada ini terasa sesak, dan mata ini tak sanggup lagi membendung air mata. Air mataku semakin membanjiri pelupuk mata ini.
Ya Allah ..... izinkan hamba tuk bertemu dengannya walau sedetik.
Manusia .... hamba Allah yang sama sekali tak mempunyai kekuasaan untuk menunda kematian, itu semua sudah menjadi suratan taqdir. Kita hanya bersiap, menunggu giliran, dengan memperbanyak amal Shaleh .

Suara dering telepon dari atas kasurku berbunyi kembali, ku angkat perlahan, berharap kabar gembira kan datang. Namunnn ..... harapanku memudar membuat tangis ini kian meledak.
Innalillahi wa Inna Ilaihi rooji'un ...
Semua hanyalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya.
Kakek tlah pergi jauhhhh ,,,, meninggalkan kita semua. Namamu kan selalu ku kenang hingga akhir menutup mata ....

Surat untuk alm.Kakek tercinta..
Alm.H.Junaidi Humam ...

Akhirnya aku sampai di Negeri Seribu Menara

3:32 PM Edit This 4 Comments »

Namaku Elsadila Dhini Hanima, aku anak tertua dari empat bersaudara. Ayahku bernama Drs.H.M.Nuruddin .T dan ibuku bernama Dra.Hj.Novri Hartini. Aku lahir di Kotagede 24 juni 1989, di kota ini pula aku menghabiskan masa kecilku. TK Aba Musholla menjadi sekolah pertamaku, dilanjutkan di SD Muh.Bodon, tamat tahun 2001. Dan pada tahun ini pula aku dipaksa oleh orang tuaku untuk melanjutkan studi ke Pondok Pesantren Gontor Putri 1.

Sungguh kukatakan itu adalah sebuah keterpaksaan, karena saat itu dunia pesantren gelap bagiku. Bagaimana mungkin aku sekecil ini harus berpisah dengan orang tua dan adik-adik yang aku cintai, serta sahabat-sahabatku di kampung dan SD tercinta. Namun orang tua tak mau mengerti perasaanku dan tetap memaksa untuk studi disana. Masih teringat jelas kata-kata ibu pada saat itu, “Kalau kamu mau sekolah, maka sekolah di Gontor, atau tidak sama sekali.”

Sesampainya di Gontor, aku mendapatkan semua hal baru disana, jauh dari kesenangan masa kanak-kanak, segalanya serba diatur dengan keras tanpa kompromi. Mau makan harus antri, mau mandi harus antri, mau apapun serba antri. Berbagau hukuman bagi para pelanggar disiplin atau bagi yang tidak mengikuti peraturan, selalu menghantui dari bangun tidur hingga tidur kembali. Pada masa awal belajar di sana, aku sama sekali tidak betah, setiap hari hanya menangis dan memohon untuk bisa keluar dari pondok.

Sementara ibuku, sering datang menjenguk dan memberi semangat selalu. Tapi aku tetap tidak betah dan tertekan. Sehingga aku seringkali sakit, bahkan pernah sakit parah. Tapi, apa jawaban ibu ketika kumengadu padanya? “Ibu … aku bisa mati bila tetap disini!

“Anakku … kamu telah ibu wakafkan di jalan Allah, apapun yang terjadi, apabila Allah yang berkehendak maka itulah yang terbaik untukmu. Bertahanlah nak ! Sesungguhnya sebaik-baiknya pelindung dan penolong bagimu adalah Allah bukan ibu”.
Perlahan kata-kata lembut ibu memasuki telingaku, namun tetap tak bisa ditawar.

Walaupun dengan sedikit keterpaksaan, aku tetap melanjutkan sekolah di Gontor. Semakin lama disini, aku semakin tahu betapa banyak ilmu yang kudapat, tidak mungkin kudapatkan di tempat lain, yaitu ilmu kehidupan. Bagaimana mengatasi diri dengan fasilitas yang serba minim, tapi di tuntut untuk selalu berprestasi.

Hidup bersama ribuan santriwati dari berbagai belahan dunia, bukanlah hal yang mudah bagiku, pastinya rawan konflik. Namun semua itu membuatku tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan tahan terhadap ujian, baik senang maupun susah. Enam tahun lamanya aku menghabiskan hidup di Gontor, dan akhirnya pada tahun 2007 aku dapat menamatkan studiku di Gontor.

Lulus dari Gontor aku meneruskan pengabdian di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim. Di sanalah aku mengajar serta mempraktekkan segala hal yang telah aku dapatkan selama enam tahun di Gontor. Selama masa mengabdi, timbullah keinginan untuk melanjutkan kuliah di Al-Azhar Kairo. Meski rasa pesimis timbul dikarenakan hafalan Qur’an yang sedikit, namun aku tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menambah hapalan sedikit demi sedikit.

Pernah terbersit dalam pikiranku akan kemampuan untuk menginjakkan kaki di negeri Seribu Menara. Sebuah Negeri yang menyimpan sejuta keunikan, yaitu Mesir. Negeri para nabi yang membuatku berharap dapat menelusuri jejak para anbiyaa utusan-utusan Allah. Serta dapat merasakan menempa ilmu di universitas Islam yang tertua di dunia. Universitas Al-azhar yang sudah sekian ratus tahun umurnya dan selama ini selalu dijadikan kiblat para mahasiswa yang haus akan ilmu. Inilah sebuah negeri yang menjadi incaranku sejak lulus di Gontor putri.

Seleksi ujianpun aku ikuti dengan penuh khidmat, azzamku yang kuat membuatku tak pernah mati semangat dan kehilangan arah tujuan. Kuhabiskan waktu seharian bersama ibuku, ibu yang setia menemaniku tes demi tes yang aku lalui, dan beliau juga yang setiap malam menjaga hafalanku, yang tak pernah letih menemani serta membimbingku. Ketulusannya menemaniku saat hari- ujian, membuat semangatku berkobar. Aku harus lulus dalam ujian ini….!!!

Keyakinan mengalahkan segalanya, itulah hikmah yang dapat aku petik. Hidup memang tak pernah mulus, selalu ada kerikil yang menghalangi langkah kita. Bagaimana seseorang dapat melewati kerikil-kerikil itu dengan penuh kesabaran. Sabar adalah kunci utama keberhasilan hidup. Doaku siang dan malam, serta doa orang-orang yang mencintaiku mulai di dengar oleh Allah SWT.

Tiba-tiba telepon genggamku berdering, salah seorang sahabatku memberi kabar bahagia akan kelulusanku. Haru biru tangis kebahagiaan mewarnai kelulusanku, orang tuakupun tak percaya akan hal ini. Terimakasih ya Allah …

Proses keberangkatanku ke Mesir bukanlah proses yang singkat, ketidakjelasan akan visa yang akan turun dari Dubes Mesir harus aku hadapi. Semua itu menghantui pikiranku, akankah aku berangkat?? Ketidakjelasan akan keberangkatan membuat diriku resah, keresahan itupun dirasakan oleh kedua orang tua. Namun, di balik keresahan itu aku dapat memetik sebuah hikmah berharga dalam hidup.

Hari-hari penantian yang membuatku harus menganggur, kini kuisi dengan kegiatan menghafal Al-Qur’an di salah satu pondok salaf Jogjakarta. Dua bulan aku habiskan dengan pengabdian diri kepada Al-Qur’an, aku yakin bahwa Allah mencintai para pecinta Al-Qur’an. Beberapa rintangan harus kulewati, namun disitulah aku menemukan sejuta makna dan hikmah dari itu semua.

Bandara Sukarno Hatta telah menjadi saksi hidup awal perjalananku ke Mesir, di situlah aku dilepas. Tangis kebahagiaan menyelimuti suasana keberangkatanku. Tepat pada tanggal 25 Maret 2009, adalah hari paling bersejarah dalam hidupku. Semuanya seolah seperti mimpi, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. “EGYPT I’m coming ….!!!” kalimat pertama yang terucap dari bibirku. Semoga Allah selalu bersama mengiringi langkah kami dalam menuntut ilmu hingga kami kembali. Amin …

Aku mulai menikmati anugrah Illahi yang tak semua orang mendapatkannya. Di Negeri Seribu Menara inilah aku baru akan memulai perjalanan hidup yang baru. Satu setengah tahun aku menjalani kehidupan di Mesir, hingga akhirnya aku diberi kesempatan untuk berlibur ke Indonesia.

Walaupun masa mudaku tidak banyak di kampung sendiri, Purbayan. Namun teman-teman di kampung menyambut akan kehadiranku. Mereka memberiku kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan remaja Masjid. Hal yang paling mengesankan bagiku, adalah ketika RENUHA (Remaja Masjid Nurul Huda) mengadakan acara buka bersama Panti Asuhan Yatim An-Nur.

Sungguh sebuah kegiatan yang positif untuk saling berbagi bersama anak-anak yatim. Dengan penuh semangat para pemuda-pemudi di kampung purbayan mensukseskan acara ini. Anak-anak pantipun terlihat begitu bahagia ketika rombongan dari RENUHA dan anak-anak masjid Nurul Huda datang. Sungguh sebuah kegiatan yang sangat positif untuk selalu di lestarikan.

"Ruh" itu tlah bangkit kembali ...

9:42 PM Edit This 2 Comments »
Sebuah ruh yang hilang, kini tlah bangkit. Sebuah cinta yang kandas kini bersemi kembali. Aku lah sang penulis blog yang tak ingin mati. Seorang yang sangat berarti dalam hidupku tlah mencoba membangkitkan semangat tulisku. Dia bukanlah seorang penulis novel, ataupun seorang penulis surat kabar. Namun ,,, dia lebih dari itu semua, dia lah seorang penulis produktif kompasiana, yang sering memunculkan tulisa-tulisanya di headline kompasiana.

Bukanlah waktu yang singkat bagiku, tuk bisa mengenali sosok nya, butuh waktu setahun untuk itu semua. Penantiannya yang panjang, tlah cukup menjadi bukti akan kesetiaannya. Kesabarannya dalam membingbingku, tlah cukup menjadi bukti akan dialah sosok yang tepat bagiku. Perlahan aku jalani hidup ini, menata kembali kehidupanku yang baru. Sebuah cinta antara aku dan dia tlah menjadi tombak ukur akan kembalinya ruh ku yang sempat hilang.

Kini aku dan dia tlah menjadi satu kesatuan yang akan kita rajut bersama agar menjadi utuh dan sempurna. Dengan seiring berjalannya waktu kita dapat bersama menemukan jalan cinta kita, hingga akhir waktu.
Aku berharap ini akan menjadi awal cerita cintaku, semoga Allah menyatukan kita dalam sebuah ikatan suci. Amin ...
Bersambung.

Sebuah "RUH" yang hilang ,,,,,

6:43 PM Edit This 0 Comments »

Aku adlah seorang penulis bLOg... aku tak mempunyai bakat apapun dlm segi jurnal. Namun ... semnjak aku dekat dengan seorang penulis terkenal dan ternama, tiba2 ruh itu merasuki tubuhku serta mengalir indah di seluruh urat nadiku. Tanpa ada alasan tepat, tiba-tiba aku berubah menjadi seorang pujangga hati. Seluruh kejadian dari A hingga Z... terekam kuat di otakku, dalam sekejap semua kejadian yang ku alami dalam sehari, menjelma menjadi uraian kata-kata indah.

Kini ... semua itu hanya khayalan, sebuah ruh dalam jiwaku hilang, semua itu melebur menjadi angan-angan belaka, tenggelam bersama hatiku yang kian rapuh....
Semenjak hubungan aku dengannya putus, tak ada lagi seorang dini sang pujangga hati. Semangat itu tlah hilang, aku kehilangan seseorang yang selalu menjadi cermin dalam hidupku. Dia lah pendongkrak semangatku yang sempat rapuh, dan menjadikannya kokoh kembali.

Aku yakin, Allah punya rencana lain, sebuah pengharapan sia-sia yang selalu ku nanti. Sebuah cinta dan sayang yang tak berbalas, wahai ... hati kemana engkau pergi??? Mengapa kau terlambat datang? Mengapa kau tak mengejar diri ini, hingga aku yakin bukti cinta darimu??? Sebuah suratan takdir harus ku terima, aku tak ingin menjadi wanita lemah, tak berdaya, dan terpuruk dalam kesedihan.

Aku harus terima semua ini, tak ada yang kekal di dunia ini, semua hanyalah permainan hidup, yang kan lenyap di telan zaman. Ku harus memulai hidup tu merajut kembali benang-benang hidup yang kusut. Sebuah pemetaan diri kan ku buat, aku akan kembali menjadi diriki sendiri, dan berharap akan datangnya ruh baru dalam hidupku..... bersambung.

"DOA” Menghantarku ke Negeri Seribu Menara

1:47 AM Posted In Edit This 0 Comments »

Author by : Elsadila Dhini .H.
"student of Al-azhar University"

Doa adalah sumber kekuatan jiwa, mengubah yang mustahil menjadi nyata. Walaupun terkesan abstrak, tak berwujud, namun terasa. Setiap insan mempunyai harapan yang berbeda-beda . Karena Allah menciptakan manusia dengan segala macam bentuk serta watak yang berbeda. Ada kalanya doa terkabul secara kilat, seolah doa kita memancarkan energi magnetic dari langit. Dan di lain sisi, doa yang kita panjatkan tak kunjung terkabul. Namun kita harus yakin dan percaya, bahwasanya suatu saat permintaan kita akan segera terkabul. Wallahu a’lam.

Kesungguhan kita dalam meminta kepada sang Khalik menjadi salah satu faktor terkabulnya doa. Seorang anak yang meminta sesuatu kepada orang tuanya, dengan penuh tata krama serta sopan santun, maka permintaan itu akan segera di kabulkan oleh orang tua kita. Sama hal nya ketika kita hendak menengadahkan tangan ke langit, dengan penuh kekhusyukan, serta kesungguhan kita dalam meminta akan menjadi penunjang utama terkabulnya doa kita. Dan tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu”. (QS:40:60).

Sebuah kisah inspratif kali ini yang akan saya sajikan kepada pembaca adalah tentang pengalaman pribadiku. Sebuah pengharapan serta penantian panjang, dan kini harapan itu terwujud. Penulis tidak membayangkan akan di kabulkannya doa ini oleh Allah. Karena mungkin aku terlalu berharap lebih. Pernah terbersit dalam alam bawah sadarku, akan kemampuanku untuk menginjakkan kaki ke negeri seribu menara. Sebuah kota Mesir yang menyimpan sejuta keunikan.

Negeri para nabi yang membuat diri ini berharap dapat napak tilas jejak para anbiyaa para utusan Allah. Serta dapat merasakan untuk menempa ilmu di universitas yang terkemuka di Mesir. Universitas Al-azhar yang sudah sekian ratus tahun umurnya, dan selama ini selalu di jadikan kiblat para mahasiswa yang haus akan ilmu. Inilah sebuah negeri yang menjadi incaranku sejak lulus ‘aliyah di Gontor putri.

Aku terlahir dari keluarga sederhana, orang tuaku hanyalah seorang fotografer panggilan. Pemasukan rutin bulanan pun sangat minim untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Seorang anak tertua dari empat bersaudara, membuatku tampil untuk berpikir lebih dewasa dari adik-adikku. Kewajibanku sebagai seorang kakak tertua yang akan menjadi Qorrota a’yun bagi adik-adiknya.

Keterbatasan ilmu ku untuk bersaing dengan ribuan org yang bercita-cita sama dengan ku membuat diri ini sedikit minder. Aku bukanlah orang yang cerdas, layaknya teman-temanku yang lain. Kegigihanku untuk selalu ingin maju tlah menutup segala ketidak mungkinan yang menghantuiku.

Pikiran yang selalu menghantui akan masa depanku nanti. Akankah itu semua itu aku raih di negeri yang aku idamkan??! Aku yakin akan keajaiban sebuah doa, aku tak pernah letih untuk selalu berupaya memohon kepada sang Maha penguasa jagad raya ini. Aku serahkan semua keluh-kesahku kepadaNya. Pendapatan orang tuaku yang tak banyak, besarnya biaya yang harus di keluarkan demi sekolahku ke Mesir, membuat diri ini diam membisu. Keinginan untuk bersekolah kesana mulai aku urungkan, ku pendam dalam-dalam
bersama harapan-harapan semu.

Satu-satunya pilihan terakhirku adalah melanjutkan perguruan tinggi di UIN Jogjakarta. Selain untuk meminimalisir pengeluaran orang tuaku, sebagai anak tertua aku tak boleh egois. Ujian masuk perguruan tinggi tlah kulalui, akhirnya pengumuman kelulusan itu keluar. Aku lulus ….! Akhirya aku bisa kuliah ….! Tak ada sedikitpun kegembiraan yang tampak di wajahku. Aku tampak lesu tak bergairah ketika ku lihat namaku terpampang di papan kelulusan. Dalam hati aku meggerutu “Bukan ini yang aku inginkan”.

Impianku untuk melanjutkan perguruan tinggi di Al-azhar tlah membuat hatiku beku. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa aku harus melanjutkan study ku di negeri sendiri. Tidak ada yang salah dengan hal ini, yang salah hanyalah paradigma pemikiranku yang terlalu berlebihan. Pendaftaran ulang hari pertama tlah di buka bagi calon mahasiswi baru. Diri ini masih terdiam kaku, pikiranku membeku, seakan mengunci langkahku untuk bangkit dan maju.

Satu tahun kuliahku terbengkalai, karena pengabdianku kepada pondok untuk mengajar. Kini aku harus mencuri start, azzam ku yang kuat untuk terus melanjutkan study hingga ke jenjang kuliah tak mematikan langkahku. Kini kenyataan harus kuterima, bahwasanya aku adalah calon mahasiswi Universitas UIN. Aku tak ingin kufur ni’mat, dapat bersekolah sudah lebih dari cukup bagiku. Itulah keputusan akhirku, namun lidah ini tak pernah letih untuk selalu berdoa agar di beri kesempatan menuntut ilmu di mesir.

Perasaanku yang plin-plan kadang membuatku mengerti akan makna sebuah harapan. Sebulan lamanya aku urungkan niat untuk mendaftar ulang, tanpa terasa waktu berjalan dengan sangat cepatnya. Aku tersentak ketika menyadari bahwa hari ini adalah hari pendaftaran ulang terakhir bagi fak.psikologi. Bergegas aku bangkit dari mimpi panjangku, ku berkemas-kemas ala kadarnya dan segera menaiki motorku. Ku tancapkan gas motor itu sekencang-kancangnya, motorku menyelip di antara kemacetan mobil, ufft… kena macet lagi !:(

Akhirnya tanpa kusadari, aku sudah berada di depan sebuah bangunan megah, ku parkirkan motorku di depan kampus. Dengan langkah gontai ku masuki ruangan demi ruangan dalam gedung megah itu. Sampailah langkah terakhirku pada ruangan kramat, akhir nyawaku. “Ruang daftar ulang mahasiswi baru fak.psikologi”. Ku tatapi setiap sudut ruang itu, tatapan mata penuh tanya para petugas yang berada di dalamnya, tlah membuat nyaliku menciut.

Perasaanku tak menentu, hingga diriku terpojok di sebuah sudut ruangan, aku menemukan sebuah pamphlet yang berisi “Beasiswa timur tengah”. Seketika itu bola sinar mataku memantulkan sinarnya, sebuah titik pencerahan akn ku temukan. Angin sejuk melintas di wajahku, senyumku melebar, hatiku pun mulai terbuka. Tanpa pikir panjang aku urungkan niatku untuk daftar ulang, aku rela namaku di hapus dari daftar calon mahasisiwi. Resiko apapun akan ku hadapi, demi mewujudkan cita-cita muliaku.

Allah tidak pernah tidur, Dia akan selalu mendengar doa hambaNya. Kekuatan doa serta keyakinan yang gigih akan merubah segalanya. Kita hanyalah hamba yang lemah, yang hanya bisa berharap dan berdoa. Semua keputusan hanya milik-Nya semata. Dan aku yakin bahwa Allah tlah mendengar doaku. Amin ….
Pendaftaran ke timur tengah telah di buka, banyak pilihan Negara yang harus kupilih. Di antaranya adalah Yaman, Pakistan, dan Mesir. Pilihanku jatuh pada pilihan terakhir yaitu Mesir.

Proses pendaftaran ujian berjalan mulus tanpa sedikitpun halangan. Tak henti-hentinya mulut ini mengucapkan rasa syukur teramat dalam kepada Tuhan semesta alam.
Tibalah aku di babak penentuan mati dan hidupku, penentuan akan kelulusanku ke Mesir. Seleksi ujianpun aku ikuti dengan penuh khidmat, azzamku yang kuat membuatku tak pernah mati arah dan tujuan.

Kuhabiskan sehari bersama ibuku, ibu yang setia menemaniku tes demi tes yang aku lalui, dan beliau juga yang setiap malam menjaga hafalan ku, yang tak pernah letih menemani serta membimbingku. Ketulusannya menemani hari ujianku, membuat semangatku berkobar. Aku harus lolos dalam ujian ini….!!! :)

Keyakinan mengalahkan segalanya, itulah hikmah yang dapat aku petik. Hidup memang tak pernah mulus, selalu ada kerikil yang menghalangi langkah kita. Bagaimana seseorang dapat melewati kerikil-kerikil itu dengan penuh kesabaran. Sabar adalah kunci utama keberhasilan hidup. Doaku siang dan malam, serta doa orang2 yang mencintaiku mulai di dengar oleh Allah Swt. Tiba-tiba telepon genggamku berdering, salah seorang sahabat lelaki memberi kabar bahagia akan kelulusanku. Haru biru tangis kebahagiaan mewarnai kelulusanku, orang tuakupun tak percaya akan hal ini. Terimakasih ya Allah …:)

Proses keberangkatanku ke Mesir bukanlah proses yang singkat, ke tidak jelasan akan visa yang akan turun dari Dubes Mesir. Semua itu menghantuiku pikiranku, akankah aku berangkat??! Ketidak jelasan akan keberangkatanku membuat diriku resah, keresahan itupun dirasakan oleh kedua orang tuaku. Namun, di balik keresahan itu aku dapat memetik sebuah hikmah berharga dalam hidup. Hari-hari penantian yang membuatku harus menganggur, kini ku isi dengan kegiatan menghapal Al-Qur’an di salah satu pondok salaf Jogjakarta.

Dua bulan aku habiskan dengan pengabdian diriku kepada Al-Qur’an, aku yakin bahwa Allah mencintai para pecinta Al-Qur’an. Beberapa rintangan harus kulewati, namun disitulah aku menemukan sejuta makna dan hikmah dari itu semua. Ketika diri ini mulai menemukan ketenangan jiwa, keputusan berangkatpun turun. Visa mesirku telah turun, dan kami para mahasiswi Al-azhar akan segera berangkat. Hatiku tenang seketika, senyumku mulai mekar. Dan kesedihanpun menyelimuti batinku, aku harus meninggalkan kampung halamanku, orang tua, pondok salaf tempat aku menghapal, serta orang2 sekelilingku yang aku sayangi.

Bandara Halim Perdana Kusuma tlah menjadi saksi hidup awal perjalananku ke Mesir, di situlah aku di lepas. Tangis kebahagiaan menyelimuti suasana keberangkatanku. Tepat pada tanggal 25 Maret 2009, adalah hari paling bersejarah dalam hidupku. Semuanya seolah seperti mimpi, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. “EGYPT im coming ….!!!” kalimat pertama yang terucap dari bibirku. Semoga Allah selalu bersama mengiringi langkah kami dalam menuntut ilmu hingga kami kembali. Amin …

Aku mulai menikmati anugrah Illahi yang tak semua orang mendapatkannya. Di Kota seribu menara inilah aku baru akan memulai ukiran baru, yang akan menjelma menjadi sebuah ukiran cantik. Inilah hari pertamaku menghirup udara kairo, sebuah Negeri yang tak pernah habis di telan massa. Awal perjuangan baru akan di mulai, akan ku tunjukkan pada dunia akan diriku yang sebenarnya. Harapan orang tua serta orang-orang di sekelilingku tlah mengendap selalu dalam otak dan hati. Sebuah harapan agar anaknya sukses serta pulang membawa oleh-oleh ilmu.

Berjuta ke ajaiban yang aku temukan disini, harapan-harapanku yang semula semu menjadi nyata, seakan-akan seperti sulap, yang menyulap keberadaanku kini. Harapan serta penantian panjangku untuk menempa ilmu di Al-azhar kini terwujud. Tanggal 26 maret 2009 adalah pertama kalinya aku menduduki bangku perkuliahan Az-har. Tak pernah terbersit di hatiku, untuk bersaing di kelas Internasional. Jutaan mahasiswi dari berbagai Negara berbondong-bondong ke Mesir demi mengemban sebuah ilmu.

Kini aku mengerti akan hakikat sebuah doa, dimana doa adalah sesuatu yang sangat sakral bagi kita. Percayalah bahwa Allah Maha Mendengar, dan akan mengabulkan semua harapan serta doa yang kita panjatkan. Amin … Wallahu a’lam bis showab...

Kota seribu menara , 19 Mei 2010

Plin-plan itu HARUS !!!

2:12 PM Posted In Edit This 4 Comments »
Berangkat dari sebuah ketidak sengajaan, dan semuanya belum pernah aku rencanakan sebelumnya. Sebuah pamflet pengumuman yang aku baca di sebuah foto yang di tag oleh informatika (sebuah buletin informasi mahasiswa kairo). "Pelatihan menulis & jurnalistik", sebuah pelatihan yang di buka umum untuk semua mahasiswa-mahasisiwi Indonesia Kairo.

Sekilas aku baca pengumuman itu, namun tak ku hiraukan. Karena memang aku tak tertarik sama sekali untuk terjun ke dalam dunia jurnal.
Selama ini dini terkenal dengan orang yang pinter ngomong, namun di lain sisi dini perihatin dengan kondisi dini yang seperti ini. Julukan si mulut besar menghantui pikiranku, karena dini hanya bisa ngomong namun tak sanggup menguraikannya dalam sebuah tulisan.

Sehingga ia akan berlalu dengan cepat, tanpa ada yang mengabadikannya. Sebuah bidikan foto, sudah cukup bagiku untuk menjadikannya dokumentasi saksi perjalanan hidup. Lambat laun terlintas di pikiran untuk mencoba mendokumentasikannya ke dalam sebuah cerita. Yang tak akan hilang di telan zaman.

Di saat mata masih sayup-sayup, tangan masih maraba-raba, dan arwah belum sepenuhnya kembali. Tidurku terusik dengan sebuah deringan telpon genggamku. Aku mulai mencari pusat suara itu, ternyata suara itu berasal dari bawah bantal tidurku. Sebuah telpon masuk dari seorang pimred Informatika (Sayyid Zuhdi). Dia mencoba memastikan akan ke ikut sertaan mengikuti training kepenulisan ini. Mungkin dia ragu degan diriku, karena sebelumnya aku hanya iseng memberikan comment ikuttttt........!!!

Akhirnya tanpa pikir panjang aku berusaha mengiyakan tawaran itu. Siapa yang tidak mau dengan gratisan. Dapat ilmu, makan, gratis pula .... hihihih :D
Training hari pertama aku lalui dengan penuh khidmat, aku sadar akan kekuranganku menulis. Disitu aku mencoba menghipnotis dan memutar paradigma pikiran peserta, akan ke pasifanku dalam segala hal, termasuk dunia tulis-menulis. Sebuah tantangan baru bagiku, mengubah seuah paradigma yang salah, dan membuat nya melesat.

Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, tatkala pemateri menjelaskan. Tibalah saatnya, moderator membuka termin pertanyaan. Disitu aku mencoba menjadi seorang peserta yang baik dan interaktif. Pertanyaan demi pertanyaan tlah aku lontarkan, sebuah penjelasan pemateri yang membuatku sedikit terdorong. Sebuah pertanyaan sederhana "Bagaimana membentengi diri di saat insprasi tak kunjung datang". Jawaban yang sedikit membuatku terkesima.

Ketika pikiran kita buntu, maka tulislah !!! Dan hanya satu solusinya ya tulislah semua yang ada di pikiranmu!!!. Sebuah penuturan mbak Desi hanara yang menghipnotis semua peserta. Dan dirikulah salah satu dari peserta tercepat menulis sebuah hard news. Aku ingin mengukir prestasi sebanyak-banyaknya yang akan selalu membakar semangatku untuk terus berkarya.
Satu demi satu pelatihan kepenulisan tlah aku lalui, dari materi kolom, esai, feature, wartawan, dll .

Semunya tlh berhasil aku lalui dengan khidmat. Dan kini tibalah di penghujung akhir yaitu materi yang sedikit ringan dan akan memberikan pencerahan bagi para calon-calon penulis hebat. Materi kali ini tentang sebuah motivasi menulis yang diisi oleh seorang motivator bernama "Miftahur Rahman El-Banjary" yang sudah merasakan akan pahit dan manisnya dunia menulis. Sebuah setruman dahsyat yang yang membakar semangat kita, seakan energi baru hadir yang mulai menggerakkan mesin jiwa yang mati.

Keinginanku untuk menulis yang hampir tenggelam kini tlah terselamatkan, hanya dengan setetes tinta dapat merubah dunia. Hasrat yang hampir terkubur bersama kemalasan, kini tlah bangkit dan akan memulai awal perjalannya. Sedikit -demi sedikit aku mulai mengerti akan bakat yang aku punya. Sebuah bakat terpendam yang belum pernah aku asah, dan hampir menjadi tumpul. Kini aku mulai menajamkannya dengan mengasahnya setiap hari.

Dan ku mulai mengawali perjalananku mengarungi bahtera kepenulisan dengan sebuah blog yang di buatkan oleh sahabatku "Nita Andriani".
Sahabat selalu ada di mana kita membutuhkannya, dan nita lah seseorang yang mendorongku untuk mewujudkan bakatku. Banyak membaca adalah salah satu faktor memperluas pengetahuan kita serta pembendaharaan kat kita. Pemilihan diksi yang tepat juga salah satu pemicu tulisan menjadi lebih renyah dan nikmat.

Maksud dari kata "Plin-Plan" disini adalah keraguanku untuk berani terjun ke dalam dunia tulis-menulis. Tidak adanya faktor yang mendukung, serta keinginan kuat dari dalam diri membuat diri ini enggan menulis. Seketika kemalasan itu menjelma menjadi sebuah keharusan bagiku untuk berani terjun di dalamnya. Di situlah aku mulai menemukan energi positif dalam diri. Di saat plin-plan menjadikan keharusan untuk memilih jalan lain, serta di saat plin-plan mulai menanamkan energi positif dalam diri.

Namun banyak dari segi plin-plan yang tidak pantas kita pelihara. Dimana plin-plan mengeluarkan engergi negatif, plin-plan disini yang harus kita buang jauh-jauh dalam diri. Seperti plin-plan dalam mengambil keputusan orang banyak, keputusan dalam sebuah perkumpulan. Seorang pemimpin yang plin-plan bukan pemimpin yang tegas. Karena keputusan yang melibatkan banyak orang, sangatlah sensitif.

Menulis bagiku seperti makanan sehari-hari, makanan yang akan memberikan kekuatan tersendiri. Aku akan mengawalinya mulai saat ini !!! Awal identitas baruku yang akan mengubah dunia. Mari kita genggam dunia dengan pena . Menulislah karena itu adalah panggilan jiwa. Hidup menulis !!!
Salam penulis ....:)

Mengukir sebuah catatan hidup ...

2:41 AM Posted In Edit This 0 Comments »


Kairo, 16 Mei 2010, 12.24 PM

"Menulislah maka kau abadi"
Tulisan kita ibarat setapak yang bisa membawa orang ke mata air atau nyala lilin di kegelapan (Bunda Gola Gong). Sebuah susunan kata sederhana namun menyimpan berjuta makna.

Menulislah maka kau abadi, dengan menulis kita mulai memahat sejarah. Dengan sejarah muncullah sebuah peradaban, dan kita memulai sebuah awal identitas baru yang akan selalu di kenang zaman.

Di zaman yang serba modern saat ini, sangat sulit merangkul masyarakat yang haus akan ilmu tertutama agama. Terbentangnya jarak, sulitnya mengadakan sebuah da'wah bil kalam. Maka jalan satu-satunya adalah dengan da'wah bil qolam.
Sebuah da'wah yang terlihat simple dan sederhana. Namun tak semua orang dapat melakukan dengan idealisme masing-masing.

Bagaimana para ulama terdahulu yang berjuang untuk terus menulis hadist ataupun membuat buku karangan2 berjilid walau hanya dengan pelepah kurma ataupun potongan2 tulang2 hewan. Karena sangat minimnya alat tulis saat itu. Sayyid Quthub selama di penjara tak henti-hentinya menulis tafsir di dinding2 penjara, kerena kegigihannya beliau dapat menciptakan jilidan buku tafsir yang sekarang kita nikmati isinya.

Perang idealisme sangat kita butuhkan, oleh karena itu kita harus mempunyai kemampuan menuliskan gagasan atau pendapat kita ke dalam sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang dapat di nikmati oleh orang banyak. Penulis bukanlah seseorang yang berbakat dalam bidang jurnalistik, dan bukanlah seseorang yang maniak dengan buku. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang akan menjadi tantangan kita.

Membungkus sebuah pemikiran atau ide ke dalam sebuah tulisan yang menarik dan renyah, tak semudah yang kita bayangkan. Di saat ide menggumpal menjadi satu dalam otak, di saat insprasi datang dan jiwa meluap. Seolah-olah semua itu ingin kita tumpahkan ke dalam racikan tulisan, dengan bumbu yang lezat. Tiba-tiba jari-jari ini kaku, dan serasa sulit untuk menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang dapat di pahami.

Otak serasa tumpul dan pikiran terkunci. Kemanakah gerangan ide-ide itu lari??!
Tangan tak kuasa bergerak, pikiran seolah-olah mati, hanya kaki lah yang tergerak seakan ingin mengejar larinya ide. Di situlah letak kesulitan kita menuangkan sebuah gagasan-gagasan. Adakah solusi untuk itu semua? Semua pasti ada jalan, tinggal bagaimana kita mencoba mencari titik pencerahan.

Inspirasi datang dengan sendiri, tanpa harus kita mengundangnya. Namun secepat itu ia datang, maka akan secepat itu pula ia pergi. Di saat ia datang, jangan pernah sekalipun mencoba untuk mengusirnya. Sambut ia dengan baik, dan susunlah ia menjadi sebuah susunan cerita, yang akan dinikmati banyak orang.

Tulisan dapat menghipnotis pembacanya, membuatnya tertawa, menangis, bahkan membuatnya bingung dan diam seribu bahasa. Inilah kehebatan dari penggalan-penggalan huruf yang terdiri dari huruf A hingga Z.
Seakan tulisan menjadi penyulap dan penghipnotis.

Di saat inspirasimu hilang, cobalah untuk membuat satu paragraph, maka dengan sendirinya kau akan menemukan banyak ke ajaiban". Inilah sebuah ungkapan yang dinyatakan oleh Anis Matta. Dari sini dini mencoba menerapkan ketika pikiran terkunci. Metode yang di ungkapkan Anis Matta dapat menjadi kunci pembuka pikiran yang mati dan terkunci.

Itulah sejuta keajaiban yang kita temukan di saat kita menulis. Dengan menulis kita mencoba mengukir sejarah hidup yang akan menjadi saksi hidup kita kelak. Tanamkan dari sekarang, kecintaan kita mendokumentasikan sesuatu dalam sebuah cerita.
Sebuah kebanggan tersendiri ketika kita mampu mengubah puluhan abjad menjadi alinea cerita. Ketika kita mampu menyalurkan energi positif kepada orang lain, maka kita tlah berhasil memberikan setruman kepada pembaca.

Jadilah seseorang yang mampu memberi manfaat dan menjadi sahabat bagi yang lain bukan sebaliknya menjadi musuh. "Khoiru an-naasi man 'anfauhum linnasi. Selamat mencoba dan teruslah menulis ....!
Salam penulis ...


Jangan takut jadi daging panggang ...!!!

1:33 PM Posted In Edit This 2 Comments »

Pernah gak sech kita merasa hari-hari terbuang sia-sia, pekerjaan semakin menumpuk, cucian menggunung serta umur semakin berkurang ??? Merekalah org2 yg merugi karena tak dpt menggunakan waktu 24 jam dalam sehari dengan pekerjaan yg bermanfaat. Sesungguhnya sebaik-baiknya manusia adalah yang hidup lama dan selalu berbuat baik.

Merugilah manusia yang hari-harinya sama seperti kemaren serta tidak bertambah baik.
Berangkat dari realita semacam ini, penulis berusaha menuangkan sebuah gagasan yang mengendap di pikiran. Musim panas adalah waktu yang nyaman untuk beriktikaf dalam rumah.
Rasa malas untuk melangkahkan kaki keluar terus menyelimuti pikiran kita.

Hembusan angin panas dari luar, terik matahari yang membakar, adalah salah satu faktor mahasiswa-mahasiswi kairo enggan melakukan aktifitas di luar rumah saat musim panas datang. Ketika diri tak kuasa menahan panasnya kota kairo, seakan-akan kita beranggapan bahwa panas kairo seperti neraka bocor.

Apakah ada panas yang menandingi panasnya neraka??! Panas yang mencapai 32-43 derajat belum ada seperempat panasnya api neraka. Panas yang kadang membuat kita mimisan bahkan dehidrasi itu semua karena kita tidak menyeimbangkan diri dengan minum air yang banyak. Sehingga sasaran utama ketika panas tak tertahankan adalah air dingin, sedangkan suhu tubuh kita sedang panas. Sebaiknya saat suhu tubuh panas, keadaan otak semakin memanas minumlah air putih yang tidak dingin, agar cairan tubuh yang hilang akan stabil kembali.

Ujian semester kedua bukanlah ujian akademis saja, ujian kesabaran, mental serta fisik harus kita hadapi.
Cuaca kairo yang memanas, sehingga membuat otak kita ketika ujian semakin memanas. Penulis pun pernah mengalami bagaimana ujian di musim panas, ujian pertama yang di harus hadapi oleh para MABA kedatangan 2008-2009.

Di saat siang yang sangat terik, matahari seakan-akan berada di atas ubun-ubun, namun tak membuat langkah ini mundur.
Mengapa takut dengan matahari??! Mengapa takut jadi daging panggang??!

Seseorang yang sukses adalah mereka yang berani melawan hawa nafsu serta dapat memerangi virus malas. Kita jauh-jauh ke kairo, meninggalkan keluarga yang dicintai, kenyataannya disini kita sering terperangkap virus malas dan santai. Kilauan kenikmatan kairo, tlah menyilaukan mata kita. Pake kacamata hitam biar gak silau ....!!!! :-p
Penulis ingin bercerita sedikit tentang seorang pemuda yang berpegang teguh pada prinsipnya. Siapakah pemuda itu ??!

Dialah Yahya bin Yahya seorang pemuda yang berasal dari andalusia, spanyol. Beliau hendak berguru kepada Imam Malik bin Anas, kemudian berangkatlah pemuda ini ke madinah dengan menunggang kudanya. Panas matahari tak mengurungkan niatnya untuk terus memacu kudanya. Sehingga sampailah ia di madinah. Bergurulah Yahya kepada Imam Malik dengan penuh ketekunan dan sabar.

Suatu hari, ketika Yahya sedang berada di suatu majlis ta'lim bersama Imam Malik dan beberapa murid lainnya. Datanglah segerombolan kafilah yang membawa puluhan gajah, seketika murid-murid Imam Malik berlomba-lomba menengok keluar kelas untuk melihat gajah. Sehingga bubarlah majlis tersebut. Saat itu gajah adalah sejenis binatang langka di kota tersebut.

Ketika kelas sepi, tak ada seorangpun muridpun dalam kelas melainkan Yahya bin Yahya dan gurunya Imam Malik. Bertanyalah imam Malik kepadanya "Wahai muridku yahya mengapa kau tak bersama teman-temanmu yang lain???" Apakah kamu tidak ingin melihat gajah???" Spontan Yahya menjawab " Aku jauh-jauh dari spanyol ke madinah bukan untuk melihat gajah, tetapi aku ingin menuntut ilmu". Subhanallah ... Allah selalu bersama orang-orang yang menuntut ilmu hingga ia kembali. Sebuah kisah yang harus kita renungkan dan contoh.


Bukankah langkah awal kita menginjakkan kota seribu menara ini tidak hanya untuk menuntut ilmu dan belajar??! Mari kita format kembali niat awal kita, jangan biarkan niat itu tercememari dengan buaian kenikmatan duniawi. Pasti temen2 pernah mendengar istilah ini "Jangan biarkan rezekimu di patok ayam".

Kebiasan buruk masisir pada musim panas adalah begadang sampai tengah malam, serta KAO dan tewas pada pagi hari. Bukankah pagi hari adalah kesempatan emas kita untuk berkarya dan bergerak???

Banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan, dari hal terkecil sampai terbesar. Pagi hari adalah moment yg tepat untuk menghapal, belajar, olahraga serta melakukan pekerjaan rumah. Bagaimana jika kebiasaan ini kita bawa sampai berkeluarga nanti. Bisa-bisa kita di pecat dari kantor kita bekerja karena selalu terlambat, bisa jadi anak kita terlambat ke sekolah, karena sang ibu bangun kesiangan.

Penulis merasakan hal serupa, penyakit masisir yang mendarah daging hingga saat ini. Namun diriku tak mau tinggal diam, semua penyakit pasti ada obatnya. Pada dasarnya ini bukanlah suatu penyakit namun ini adalah suatu kebiasaan buruk. Seseorang akan melakukan sholat rutin 5 waktu, qiyamul lail, duha , karena kebiasaan positif yang sudah tertanam di jiwa. Seseorang yang mempunyai kebiasaan sholat duha, jika dia lengah sekali saja, maka penyesalan yang ia rasakan.

Akhir-akhir ini diri ini merasakan suatu perubahan, aku adalah salah satu orang yang mempunyai kebiasaan di atas. Namun diri ini tak ingin memeliharanya, aku mencoba untuk merubah perlahan kebiasaan negatifku menjadi positif. Sebuah buku yang kubaca yaitu "Quantum Motivation" buah karya : Miftahur Rahman el-Banjary, sebuah buku yang memberikan pencerahan pada diri ini. Aku terkesan pada sebuah bait paragraph yang mengatakan perihal pemanfaatan waktu. Aku renungi kata demi kata yang tertulis di buku itu, aku masukkan kata-kata itu hingga merasuk ke hati. "Mulailah dari waktu"

setiap manusia mempunyai waktu yang sama, sehari dalam 24 jam. Namun tidak semua orang bisa menggunakan dengan baik waktu 24 jam ini. Ada sebagian orang yang menggunakan 50% waktunya untuk bersantai dan 50% untuk bekerja. Ada pula yang menggunakan 20% untuk bekerja dan 80% untuk santai. Alangkah baiknya jika 80% dari waktu kita gunakan untuk bekerja dan berpikir serta 20% untuk istirahat. Pesan yang dapat ku ambil dari buku ini adalah "Jangan pernah membiarkan waktu kita terbuang sia-sia walau hanya satu detik" dari situ kita dapat menyimpulkan sebuah pemanfaatan waktu yang efisiens.


Setiap kita berjalan, mengendarai bus, dalam antrian tiket, dll...usahakan kita membawa buku di manapun kita sehingga di saat kosong kita dapat menjadikan buku itu sebagai teman. Jangan biarkan pikiran kita mati, sehingga akan mengkristal dan membeku.

Ada kalanya kita berpikir apa hubungannya antara daging panggang dengan urgensi waktu??!
Jelas ada hubungannya, karena dalam setiap gerakan yang kita lakukan dalam sehari, selalu mempunyai keterikatan dengan waktu 24 jam yg selalu akan berputar ke depan.

Jika kita berapologi akan keenggenan kita keluar rumah dengan alasan cuaca yg panas, dan dalam hari-hari kita hanya di habiskan dengan ketakutan kita untuk menjadi daging panggang yg akan gosong terbakar matahari. Dan akhirnya kita tergilas oleh waktu, dimana kewajiban kita untuk kuliah, menuntut ilmu di luar, talaqqi, tahsin, dan masih banyak lagi akan terlewati sia-sia. Oleh karena itu jangan jadikan matahari sebagai alasan kemalasan kita untuk mengikuti majlis-majlis ta'lim yg bersifat keilmuan.

Pergunakanlah waktu senggang dengan membaca, bergerak, mencari ilmu serta selalu menambahnya setiap saat. Waktu terus berputar dan maju, kita tidak dapat memutarnya kembali. Sibukkanlah hari-harimu dalam menuntut ilmu, karena orang yang selalu merasa dirinya kurang, maka dia akan selalu mengisinya dengan ilmu.

Hauslah selalu akan ilmu, sehingga kau akan selalu mencarinya demi membasahi pikiranmu yang kering.
Hiasilah dirimu dengan ilmu, perbanyaklah membaca, niscaya energi positiflah yang akan keluar dalam diri kita. Sekian ... semoga bermanfaat. Salam penulis ....

Pesan Ayah, Kairo 10/05/2010

11:09 AM Posted In Edit This 5 Comments »

ASSKUM NAK. APA KABAR DINIIII? BAIK2 DI NEGRI ORANG YA NAK. BAPAK PESEN: JANGAN MALAS2AN DI DALAM MENGERJAKAN SESUATU, SELALU SEMANGAT. INGAT: " HASIL KITA HARI INI ADALAH KERJA KITA HARI KEMAREN, DAN HASIL HARI ESOK ADALAH KERJA KITA HARI INI". NAK JAGA DIRI DALAM PERGAULAN, BAIK DENGAN SESAMA MAUPUN LAIN JENIS. INGAT KATA2 MUTIARA: "MEMANG BAIK JADI ORANG BIJAK, TETAPI LEBIH BAIK KALAU JADI ORANG BIJAK". PAHAMI MAKNA YG LEBIH MENDALAM. NAK TANTE UDAH MAU LAMARAN, MUNGKIN 20 MEI NANTI. DOAIN YA? SEMOGA YNGKUNG TETAP SEHAT DAN BISA MENGAWAL TANTE SAMPE KE JENJANG PERNIKAHAN. BAPAK SEDANG BERUSAHA UNTUK MENGATUR PERNIKAHAN TANTE SAMPE MENUNGGU DINI PULANG. OKEEE. DAN YA WASSK7UM. WR. WB. BAPAK

Reply from me :
Wa'alaikum salam wr.wb ..... dear my lovely dad :)
Iya bapak dini akan baik2 disini, dini akan trs berusaha agar tdk mengecewakan mama dan bapak. Doakan anakmu selalu pak !!! Dini akan renungi baik2 nasehat bapak, makasih bapak atas segala dorongan, bimbingan, serta doa yang selama ini kau berikan padaku. Tak akan aku lupakan semua jasa2 mu. Dan akan aku ukir selalu dalam benakku. Alhmd ... dini senang mendengar kabar dri bapak, syukur hanya kepada Allah SWT, akhirnya tante di pertemukan oleh jodonya. BARAKALLAHU WA BARAKA 'ALAIKUMA WA JAMA'A BAINAKUMA FII KHOIRIN, AMIN .....
Salam rindu dini untuk tante, dini doakan semoga segala urusan lamaran lancar sampai ke jenjang pernikahan nnti. Dan tak lupa doa dini selalu untuk eyang kakung semoga di beri umur yg panjang. Dan msh bisa berkumpul dengan keluarga semua sampai dini pulang nnti. Amin ,,,,,
Miss u dad :) Wa'alaikum salam wr.wb.

Sebuah tujuan yang terabaikan

9:43 AM Posted In Edit This 2 Comments »
Setiap insan pasti mempunyai tujuan yang berbeda-beda, begitu jg hal nya kita sebagai pelajar Indonesia yg sedang menempa ilmu di negeri kinanah ini, yaitu Mesir sebagai mam’baul ilmi pusat segala ilmu.

Tak heran jika Mesir adalah tempat yg banyak dikunjungi oleh para org2 yang cinta ilmu agama serta haus akan ilmu yang akan menjadi kaderisasi ummat nantinya. Banyak sekali pelajar yang tertarik dengan Negara ini, salah satu dari tujuan mereka datang ke Mesir ini adalah untuk menuntut ilmu, tak banyak juga yg berniat ingin memperdalam agama, serta menjadi khufadz. Itu semua adalah angan-angan kita sebelum melangkahkan kaki ke negeri ini, manusia tanpa tujuan hidupnya tak lain hanya seperti roda yang terus berputar tanpa tahu dimana titik berhentinya.

Manusia yang disiplin serta yang akan selalu menghargai waktu yang sukses nantinya. Kerasnya kehidupan di Mesir ini membuat kita tertuntut untuk kuat serta hidup mandiri. Sangat disayangkan sekali jika banyak dari waktu kita yang terbuang sia-sia, entah terbuang termakan oleh kemalasan kita sendiri, atau terbuang dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Banyak dari pelajar Indonesia yang terlena dengan kehidupan di Mesir ini, sebuah potret kehidupan yang penuh dengan silauan kenikmatan duniawi. Tak lain prioritas utama kita disini adalah sebagai mahasiswi yang disibukkan dengan bangku kuliah, namun semua itu belum kita rasakan, dengan kesibukan kita di Organisai ataupun aviliatif yang lain. Kuliah di Az-har hanya formalitas belaka, yang mana sangat berbeda sekali dengan dunia perkuliahan di tempat lain, problematika yang sering kita alami di kuliah adalah dari segi bahasa.

Penuturan duktur dengan bahasa ‘amiyah sangat asing sekali di telinga kita, bahasa yang belum pernah kita pelajari di pondok dahulu. Namun … itu semua tidak menutup kemungkinan kita untuk tidak maju dan bangkit dari keterpurukan ini. Tak ada yang sulit di dunia ini jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh seta istiqomah. Memperbanyak teman dari Negara lain akan banyak membantu kita menguasai bahasa mereka, mayoritas masisir sekarang lebih cenderung menyukai untuk berkumpul dan berteman dengan teman satu daerah ataupun almamater.

Kita di sorot sebagai mahasiswa yang menguasai bahasa Arab, bukan sebaliknya ketika kita kembali ke Indonesia nanti justru bahasa daerah kita yang lancar. Al-azhar hanya sebagai kunci awal kita menuju gerbang kesuksesan, selanjutnya terletak pada individu masing-masing ingin membuka gerbang itu kemana.

Sungguh dilema yang tak kunjung reda, ketika niat suci ternodai begitu saja. Sering kita menyadari apa yang tlah kita dapatkan di Mesir ini, apakah hapalan Qur’an kita bertambah? Apakah ilmu kita bertambah luas? Apakah talaqqi serta tahsin kita jalan? Semua itu kita kembalikan pada diri kita masing-masing, hanya diri kita yang mampu menjawabnya.

Penulis pun terkadang mengalami dilema semacam ini, kita bukanlah manusia sempurna, terkadang keimanan seseorang ada kalanya bertambah dan di lain sisi berkurang, tergantung bagaimana diri ini memeranginya. Petahanan benteng diri pun harus selalu di lakukan, agar kita tidak terjerumus ke dalam lembah kenistaan. Tak menutup kemungkinan pula jika banyak dari masisir yang sukses dalam bidang akademisi, banyak dari mereka yang rajin mengikuti talaqqi seta tahsin, dan ada pula yang benar-benar istiqomah terhadap hapalan Qur’an.

Bukanlah seorang az-hari jika tidak hapal Al-Qur’an, banyak dari pelajar Indonesia khususnya yang menyandang predikat Mumtaz atau jayyid jiddan, serta masih banyak lagi prestasi-prestasi masisir yang belum terungkap. Hendaknya mengaca pada diri kita akan kemampuan kita, jika banyaknya aktfitas kita yang menganggu konsentrasi belajar, seta konsentrasi hapalan, mulailah melakukan manajemen diri, serta pintar mensiasati waktu, sekecil apapun waktu kita untuk belajar serta mengahapal Al-Qur’an jujurlah pada diri kita masing-masing, mulai menata diri dengan menepati janji yang sudah kita azamkan.

Jika kita menelisik kembali dengan maraknya masalah keterlambatan MABA Indonesia yang akan berangkat ke Mesir, membuat kita sedikit cemas akankah masalah seperti ini akan terjadi setiap tahunnya. Masalah ini berawal dari terlambatnya MABA kedatangan 2008-2009, serta merambat kepada masalah terlambatnya MABA kedatangan 2009-2010 dalam mengikuti imtihan qobul. Entah apa yang akan terjadi di tahun selanjutnya, semua jajaran terkait sudah berusaha sekuat tenaga, namun kita hanya dapat berdoa agar permasalahan semacam ini tidak terjadi nantinya. Wallahu a’lam bis showab ….

Kita adalah harapan bangsa, masyarakat serta keluarga, air mata harapan orang-orang yang mencintai kita tlah tertumpah ketika menghantarkan langkah awal kita untuk menuju ke Negeri seribu menara. Jangan kita nodai harapan mereka serta niat dan tujuan kita yang tulus, Allah akan selalu bersama orang yang menuntut ilmu di jalan-Nya. Inilah sedikit gambaran dari problematika yang sering kita alami, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diingatkan dan selalu berada di jalan-Nya. Amin ….

Skala Prioritas dan Etika Perbedaan

9:29 AM Posted In Edit This 3 Comments »

Di kalangan umat Muslim Indonesia, acapkali terjadi perbedaan dalam menentukan hari Raya iedul fitri maupun hari Raya iedul adha, sehingga moment penting dalam perayaan hari kemenangan itu, kebahagiaanya tercemari bagi sebagian kalangan, karena belum adanya kepastian waktu yang tepat untuk diikuti, sehingga menimbulkan kebingungan dan kebimbangan.

Hal ini juga terkadang membuat potensi perpecahan di kalangan anggota keluarga, masyarakat, organisasi dll, yang menganggap pilihannya adalah yang terbenar dan yang lainnya pilihan yang salah bahkan mendekati haram. Belum lagi, kebersamaan yang biasanya selalu hadir di moment ini, tidak lagi menjadi utuh, anak berbeda dengan orang tuanya, berbeda dengan kerabat atau berbeda dengan teman sekampung. Sungguh, hal ini terasa lebih banyak mudhorotnya dari pada baiknya, meskipun penulis sendiri pernah mengambil manfaat dari perbedaan ini secara kebetulan.

Alkisah : Penulis tinggal di Yogyakarta mengikuti keluarga bapak yang mayoritas mengikuti kegiatan organisasi Muhammadiyah yang mana dalam menentukan Hari Raya menggunakan metode Hisab, sehingga ketika itu diputuskan kami akan berhari Raya di hari Sabtu dan akan berkumpul dengan keluarga bapak, eyang dan satu keturunan (bani) di hari tersebut. Tradisi di tempat kami kehadiran pada acara tersebut setengah diwajibkan untuk mendatanginya, tapi di lain pihak nenek dari keluarga ibu yang tinggal di Sukabumi,Jawa Barat menghendaki kami sekeluarga untuk kumpul merayakan hari Raya pertama, sungguh suatu kebetulan.

Keluarga nenek adalah penganut NU yang dalam penentuan hari Rayanya menggunakan metode rukyah, dan pada saat itu memutuskan bahwa hari Raya jatuh pada hari Ahad, jadilah kami sekeluarga berhari Raya di Yogyakarta pada hari Sabtu dan mengikuti tradisi kumpul Bani di hari tersebut, dan setelah acara tersebut kami sekeluarga berangkat untuk pergi mudik ke Sukabumi, dan sampai disana tepat hari Ahad untuk merayakan hari Raya bersama keluarga ibu.

Hal ini adalah sekelumit cerita tentang dinamika sisi lain dari perbedaan penentuan hari Raya yang kebetulan pada saat itu kami merasa diuntungkan. Tapi meskipun begitu tentu saja penulis lebih menginginkan adanya kesatuan dalam penentuan hari Raya, sehingga menutup kemungkinan perpecahan yang membawa kemudlaratan dan kemungkinan adanya pihak-pihak lain yang memanfaatkan perbedaan ini untuk menjatuhkan umat Islam. Na’udzubillah …..!

Namun tidak sepantasnya jika masalah keyakinan yang tidak bisa di satukan menjadikan perpecahan atau retaknya ukhuwah di antara umat muslim sendiri.
Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi problematika seperti ini ???
Sebagai bagian dari umat Muslim, penulis mencoba memberikan sedikit kontribusi pemikiran untuk menyikapi perbedaan ini. semoga Allah pemilik ilmu memberikan petunjuk-Nya dan menjauhi dari kesalahan, Maha benar Allah.

Apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan ???
Ternyata perselisihan dalam menentukan waktu hari Raya tidak hanya terjadi di antara ulama, tapi juga diperkeruh oleh orang-orang yang mengerti agama (munafik) atau oleh orang-orang yang hanya mengikuti akalnya sendiri tanpa dalil yang jelas. Sungguh tak mengherankan lagi jika cara yang digunakan untuk menentukan bulan hijriyah sampai saat ini belum bisa disatukan. Adanya perkembangan pengetahuan serta tafsir dari

informasi yang didapatkan pada zaman nabi membuat adanya banyak varian dalam menetapkan tanggal satu pada bulan hijriyah,tapi secara umum perselisihan ini dapat dibedakan menjadi beberapa permasalahan:
1. Ada yang menggunakan Hisab dan ada juga yang memakai rukyat.
2. Adanya perbedaan pendapat menyangkut mathla hilal di setiap negeri, ada yang mengikuti apa yang terjadi di Negara Saudi atau mathla di negerinya sendiri.
3. Ada yang menentukan tanggal satu berdasarkan saat new moon yang ditandai dengan adanya konjungsi (IJTIMAK) Matahari dan bulan. Ada yang ditentukan berdasarkan wujudul Hilal (Asalkan bulan sudah berada di atas ufuk), dan ada pula yang menggunakan rukyatul Hilal (kenampakan bulan sabit secara kasat mata).
4. Penggunaan Hisab juga tak lepas dari masalah perbedaan, ada beberapa varian kriteria terkait dengan berapa derajat bulan di atas ufuk dan berapa derajat sudut matahari dan bulan saat hilal bisa dikatakan terlihat.


Namun sebagian kelompok umat Islam dalam menentukan masuk awal bulan Hijriyah menggunakan rukyatul Hilal bil fi’li (melihat bulan secara langsung) sebagai keputusan final, sedangkan hisab hanya penunjang, jika bertentangan antara hisab dan rukyat, maka yang dijadikan patokan adalah rukyat. Hal ini berdasarkan sabda Rasullah SAW yang kemudian dilaksanakan para sahabat :
“Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihat bulan, kalau mendung bagimu, maka sempurnakan hitungan 30 hari.” (H.R. Bukhori)
Dan yang lain ada juga yang menggunakan hisab sebagai acuan dalam pengambilan keputusan dalam menentukan masuknya bulan.


Akan tetapi ijtihad para ulama yang sebagian menggunakan rukyat ataupun hilal terdapat kebenaran diantara keduanya. Sebagai umat muslim yang berukhuwah, kita tidak boleh mengklaim kebenaran lalu menyalahkan yang lain dan seharusnya melihat perbedaan ini sebagai khilafiyah furu’yah yang tidak harus dipertentangkan lagi, tetapi ikutilah yang menjadi keyakinan atau kemantapan hati kita dan hendaknya kita saling toleran atas keyakinan orang lain, karena walau bagaimanapun ini adalah hasil ijtihad, yang mana jika benar akan mendapat pahala dua, dan yang salah dapt pahala satu.

Seyogyanya kita bersikap dewasa serta berpikir rasionalis dalam menyikapi perbedaan ini, karena perbedaan itu adalah suatu rahmat yang harus kita syukuri.
Walaupun berbeda namun kita tetap satu …..!!!!
Harapan besar bagi kita semua melihat umat muslim bersatu tanpa adanya perpecahan walau kita saling berbeda keyakinan satu sama lain.
Umat Muslim yang baik hendaknya saling menghormati serta menjunjung tinggi asas-asas Islam yang akan melahirkan ketentraman dan kenyamanan serta akan tercipta masyarakat yang rukun dan saling menghormati di antara sesamanya.

Tak ada yang perlu kita perdebatkan lagi akan masalah perbedaan yang ada ….! Seperti apa yang dituturkan oleh ust. Irwan Masduki Lc, bahwasanya tidak ada masalah dengan perbedaan ini asalkan rukun, metode itsbatnya memang beda dan semua berijtihad. NU dan Muhammadiyah sudah tidak saatnya di pertentangkan lagi, karena masih banyak isu-isu serta masalah sosial yang lebih penting untuk dibahas, yaitu soal pendidikan, kemiskinan, toleransi, terorisme,dll. Memperdebatkan hari Raya, jumlah raka’at taraweh dalam sholat, dan masalah furu’iyyah lainnya hanya akan membuang waktu saja. Lebih baik kita bangun toleransi dan kerukunan bersama dengan mengesampingkan perbedaan dan mencari kesamaan visi-misi.

NU dan Muhammadiyah sekarang punya tantangan yang sama, yaitu mengikis fanatisme sektarian di level akar rumput (masyarakat tingkat bawah) dan itu yang sekarang sedang diupayakan oleh para elit NU-Muhammadiyah.
Inilah tadi sekelumit hal unik yang sedang terjadi di kalangan atau di kehidupan masyarakat kita, walaupun kita beragama dan berwarga negara satu namun keyakinan kita berbeda-beda.

Namun permasalahan yang dihadapi kalangan orang awam adalah sangat minimnya sekali pengetahuan agama mereka, sehingga mereka hanya taqlid orang-orang yg menjadi kepercayaan mereka, naudzubillah min dzalik jika mereka sampai terbawa arus ke dalam golongan yang sesat.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai makhluk Allah SWT yang diberi kelebihan pengetahuan agama yang lebih, serta diberi kesempatan untuk menuntut ilmu di Negeri Islam, Negeri para Nabi memberikan pemahaman serta da’wah yang nyata kepada kepada masyarakat awam yang ada di sekitar kita. Tanpa kita sadari jika kita menengok keluar, maka kita akan menemukan banyak sekali orang-orang yang harus kita rangkul agar mereka tidak tersesat dan salah jalan.
Mari kita sama-sama saling memperhatikan kondisi dilematis ini …..!

Bocah 10 tahun pengidap lleus obstruktif ....

1:39 AM Posted In Edit This 0 Comments »

Pagi itu pikiranku sedang kalut, aku tak punya pilihan lain selain bergegas menuju persinggahan ternyamanku. Ku buka sebuah laptop milik kerabatku, tak sengaja aku membuka sebuah situs tentang seorang bocah 10 tahun yang mengidap penyakit cacingan parah.
Aku terperanjat dan geli ketika membaca dan melihat beberapa foto-foto nya. Semuanya hampir tak masuk akal, bayangkan 3 kilo cacing mengendap di perutnya.

Ternyata kehidupan para cacing bukan hanya di tanah maupun di tumpukan sampah2. Mereka memiliki kehidupan baru dan beranal-pinak di dalam perut manusia. Na'udzubillah min dzalik ....
Berawal dari keluhan si bocah kepada kedua orang tuanya, dia mengeluh karena tidak bisa buang air besar selama 4 hari. Perutnya buncit dan semakin membesar, 4 hari bocah kecil itu membawa sampah kotoran dalam perutnya.

Tak ada pilihan lain bagi orang tuanya untuk membawa anaknya ke sebuah rumah sakit. Dokter bergegas untuk memeriksanya, diagnosa dokter bocah itu mengidap penyakit lleus obstruktif(sumbatan di usu halus). Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa bocah ini, akhirnya tim medis pun bergegas membawa si bocah ke ruang operasi, disitulah pembedahan awal di mulai. Ternyata penyakit ini sangat langka dan jarang sekali di temukan pembedahan semacam ini di rumah sakit itu.

Setelah anastesi berjalan, dan perut si bocah mulai di buka. Para dokter di kagetkan oleh fakta yang harus di akuinya. Ketika terbuka, cacing itu langsung muncrat keluar seperti mie udhon (spaghety) dengan berat 3 kilogram setelah di kurangi dengan berat baskom. Namun cacing-cacing itu telah berhasil di bantai dan mati, kerana dokter segera menyiramnya dengan air panas. Innalillahi ....

Hasil operasi sekitar 3 kilo cacing jenis Ascaris lumbricoides (estimasi sekitar 500-1000 cacing).
Setelah operasi selesai, dokter segera memanggil keluarga pasien. Namun, respon sang ayah tak disangka-sangka "sudah biasa dok anak saya sering saya beri obat cacing, dan ketika buang air besar yang keluar hanyalah cacing". Na'udzubillah ....
Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides. Hospes atau inang dari Askariasis adalah manusia.

Di manusia, larva Ascaris akan berkembang menjadi dewasa dan menagdakan kopulasi serta akhirnya bertelur. Penyakit ini sifatnya kosmopolit, terdapat hampir di seluruh dunia. Prevalensi askariasis sekitar 70-80%.
Bisa kita bayangkan, jika si bocah tak segera di tangani oleh pihak medis, sudah berapa ribu cacing yang terus berkembang biak di perut sang bocah??!

Kemungkinan besar dari penyakit ini adalah kurang kebersihan, dan kurang membiasakan diri untuk mencuci tangan ketika sebelum makan, dan kotoran yang ada di tangan akan masuk ke perut bersamaan dengan makanan yang di telan. Sebuah hikmah yang bisa petik, pentingnya hidup sehat dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukankah Al-Qur'an sdh menjelaskan sebuah ayat dlm Qs: Al-baqarah : 222 "Bahwasanya Allah menyukai orang2 yang bertaubat dan membersihkan diri??".

Serta dlm hadist pun di sebutkan "An-nadhoofatu minal imaan".
Bersih itu indah, bersih itu sehat, kurangnya kesadaran masyarakat akan ini, membuat banyaknya masyarakat yang jatuh sakit. Semoga kita termasuk orang2 yang mencintai kebersihan dan selali berusaha mensucikan diri. Bukan dalam hal makan saja kita harus mencuci tangan kita, namun dalam hal sholat pun kita di wajibkan untuk bersesuci terlebih dahulu (Qs.Al-Ma'idah : 6).

Sampai saat ini bocah usia 10 tahun itu masih dalam perawatan medis, serta menkes Endang Rahayu akan segera memberi bantuan jamkesda kepada keluarga pasien. Jaminan kesehatan itu akan di berlakukan untuk para keluarga yang tidak mampu.

Resah di taman hati

2:48 PM Posted In Edit This 0 Comments »

Malam yang bersahabat... hembusan angin kota kairo bak angin surga. Seolah-olah mereka mulai menyapa keberadaanku disini. Aku menanti seseorang dari kejauhan, ku menunggunya di sebuah persimpangan hay 'asyir. Sesekali ku tengok jam tanganku, sesekali ku buka telepon genggamku. Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam, perasaanku mulai kacau, pikiranku mulai terganggu. Akankah dia datang menemuiku ??? Hampir 1 jam aku menanti kedatangannya, tak kulihat kelebat bayangnya sekalipun. Bahkan aroma tubuhnya pun tak tercium olehku.
Keramaian kota kairo semakin membuat keresahanku memuncak. Dari balik kemacetan mobil aku berusaha mencarinya, ku sebrangi jalan raya itu, namun bayangannya pun tak kunjung ku temui. Akankah kencan malam ini harus ku batalkan ??? Azzam itu mulai berucap, bahwa langkahku tak boleh berhenti. Di balik kerumunan manusia, ada seseorang memanggilku. Sebuah panggilan yang tak asing lagi bagiku. "Dinda ......" Senyumku mulai mekar, bak bunga yang baru mekar di musim semi. Bersambung .....

Jarum itu hampir ku temukan...(sambungan "ketika cinta harus memilih") Episode 2

2:32 AM Posted In Edit This 0 Comments »

Cinta ... memang terkadang rumit, namun cinta bisa membuat yg mustahil menjadi kenyataan. Cinta datang dengan sendirinya, tanpa harus kita undang. Cinta tak mengenal ruang dan waktu, seseorang bisa menjadi hebat karena cinta.

Seorang anak menjadi sukses karena hasil cinta yg tulus dari orang tuanya. Terkadang kita sering di munafikan oleh cinta, terkadang kita di butakan olehnya. Dua insan yang bercinta ibarat "minum air laut" , semakin di minum semakin haus. Begitu jg hal nya ketika kita makan kacang, mulut ini tak kuasa untuk berhenti tatkala kacang itu belum habis.

Cinta yang seperti ini hanya akan membuat hidup kita tak beraturan, banyak hal-hal percuma yang menyita waktu kita. Aku tak bisa pungkiri, andai saja cinta itu singgah di hatiku. Aku layaknya wanita lainnya, yang haus akan perhatian serta kasih sayang. Tatkala aku harus mengakui bahwa "aku jatuh cinta", aku akan berpikir seribu kali untuk menerimanya. Kadang kita dihadapkan oleh suatu permasalahan cinta, bagaimana semestinya kita menanggapinya.

Sanggupkah kita membedakan antara cinta dan kagum semata??? Bagiku cinta tak mudah untuk di raih, cinta membutuhkan proses lama. Layaknya anak yang sedang belajar berjalan, dia harus jatuh bangun untuk sampai tujuan. Begitu hal nya cinta, semakin mudah kita mendapatkannya, maka semakin mudah pula kita melepaskannya. Cinta yang abadi dan suci hanya ada setelah pernikahan. Betapa indahnya tatkala seseorang mendapatkan cinta abadinya.

Terbersit di hati kita "siapakah gerangan pangeran ataupun bidadari yang akan menjadi pendamping kita kelak?" Allah sudah mengatur semuanya, semenjak ruh di tiupkan ke jasad kita, jodoh kita sudah di tentukan olehNya. Semuanya tlah tertulis akan jodoh dan maut kita nanti. Ketika cinta hadir, hati ini kan berbunga-bunga seolah-olah kita berada di tengah-tengah taman surga.

Itulah hakikatnya cinta, membuat yang rapuh menjadi tumbuh, membuat yang sirna menjadi nyata. Pernahkah kita merasakan suka sesaat??? Tatkala rasa ini datang sesaat dan hilang begitu saja, inilah yang di namakan kagum. Karena hakikatnya kita akan terpana dengan kelebihan orang lain yang tak kita miliki. Rasa ini datang dan sirna termakan oleh waktu. Ketika jarum yang jatuh itu hampir ku temukan, akan kucari hingga ke dasar laut sekalipun.

Walau badai serta ombak menerjang tak akan menjadi penghalangku untuk terus mencarinya, sekalipun nyawa ini terancam. Semunya tak kan terwujud tanpa pertolongan dari-Nya, Dia akan menghendaki hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Serahkan semua cita serta cinta kita hanya kepada-Nya, maka kau akan mendapatkan keabadian cinta yang sebenarnya. Bersambung ....

Ketika cinta harus memilih .....

3:49 PM Posted In Edit This 6 Comments »


Aku adalah seorang gadis perantauan yang sedang menuntut ilmu di negeri

kinanah (Mesir). Dan akulah gadis yg baru mencari cinta, namun cinta

itu sulit ku dapatkan. Ibarat sebuah sebuah jarum yang jatuh ke dalam laut,

sulit untuk dicari. Begitulah cinta yang sedang menimpa diriku.Tak semudah

itu menemukannya, walau 7 samudera tlah ku sebrangi. Semuanya berawal dari

sebuah percakapan singkatku dengan seorang penulis bernama "Miftahurrahman el-

banjary". Disitu aku mencoba menyakan perihal tentang cinta olehnya, apa

definisi cinta sebenarnya ??? Baginya cinta sejati hanyalah setelah adanya

ikatan pernikahan. Belum puas aku mendengar argumennya. Aku melontarkan

pertanyaan kedua, "Apakah seseorang bisa berkarya dan maju karena dorongan

dan motivasi dari pacarnya??? Lalu ... dia mencoba untuk menjawabnya serta

meyakinkanku untuk kesekian kali, "Pacar bukanlah segalanya, justru

terkadang pacar itu yg membuat banyak org tak mampu berprestasi, sebab

banyaknya permasalahan2 sepele yg harus diselesaikan dan menyita waktu.

Hatiku mulai lega dan seakan-akan mulai tersiram, sejuk itu mulai terasa

serta semangat itu mulai timbul kembali. Aku merasa bahwa kesendirianku

bukanlah penghambat kemajuanku untuk terus berkarya. Ku mulai tancapkan

sebuah tekad membara, yang akan selalu membakar semangatku. Aku adalah aku,

dan aku tidak pernah memakai baju serta topeng orang lain demi ke glamoran.

Akan kuserahkan semua cita serta cintaku hanya kepada Illahi Rabbi, dan

teruntuk seseorang yang tlah membuat diriku ada di dunia ini, dialah mama

serta ayahku. Tanpanya aku tidak akan pernah menghirup udara dunia,

tanpanya aku tak akan pernah menjadi sesosok gadis perantauan yang kan

menimba ilmu di negeri seribu menara. Ya Allah .... lindungi serta

sayangilah mereka di saat duka maupun gembira. Walau .... seribu lelaki

mengejarku, hanya ku pilih satu dari seribu. Siapakah dia yang akan berada

pada posisi satu itu ??? Tanpa pacar aku dapat hidup normal, layaknya

seperti teman-teman ku yang lain. Tanpa pacar aku dapat terus berkarya dan

berprestasi. Dan masih banyak orang-orang di sekelilingku yang mencintaiku.

Sampai kapanpun aku akan menjadi diriku sendiri. Bersambung ...